RSS

DAN SENJA MULAI MEMERAH

22 Mei

Beriring gerimis dan berlatar senja yang mulai memerah, seorang akhwat bertanya kepada penulis .

“akh, kalau ada suatu perlombaan menuju surga … siapakah kira-kira yang akan menjadi pemenang? Siapakah yang akan mencapai surga duluan … laki-laki ataukah perempuan? “

“ya … keduanya, mau laki-laki atau perempuan, punya peluang yang sama untuk jadi pemenang … gak bisa ditentukan pastinya … siapa yang bakalan jadi pemenang …” jawab Penulis.

“lho … bukannya laki-laki yang punya peluang lebih besar … perempuan kan gak bisa seperti laki-laki yang bisa melakukan semua amalan-amalan besar … seperti jihad, mengiring jenazah, menjadi pemimpin bagi kaum muslimin, dan amalan yang lain …”

“Allah itu Maha Adil … podo wae … sami miwon … eh, sami mawon (gak boleh sebut nama merek) … laki-laki juga kan gak bisa hamil, gak bisa menyusui juga … coba ambil hikmahnya, bukankah Rasulullah Muhammad SAW  … Manusia yang paling baik akhlaknya … Pemimpin terbesar dan tersukses sepanjang sejarah peradaban manusia,  Beliau juga lahir dari rahim seorang perempuan ?”

Penggalan kisah di atas, menjadi inspirasi tersendiri bagi penulis untuk mengulas persoalan ini lebih jauh lagi. Ada satu buku bagus yang pernah Penulis baca, terkait dengan persoalan tersebut. Buku itu berjudul “Sibaq Nahwal Jinan”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul “Berlomba Menuju Surga”. Sang penulis buku, yaitu Syaikh Khalid Abu Syadi, mengatakan bahwa sebenarnya kita, orang-orang beriman, sedang berada dalam suatu perlombaan besar … yaitu perlombaan menuju jannah … perlombaan menuju surga …

Tidak semua sadar bahwa saat ini orang-orang pada dasarnya tengah berada  di sirkuit atau lintasan perlombaan dengan surga sebagai finishnya. Sebagian dari mereka ada yang asyik duduk-duduk di sebuah pusat perbelanjaan … mengumbar tawa … menukar keimanan dengan kekafiran … padahal saudara-saudara mereka yang lain justru sedang berlari menuju garis finish, dengan aktif memakmurkan masjid … senantiasa berdzikir dan menyebut Asma Allah … mereka memilih mempertahankan keimanan, walaupun ditukar dengan kenikmatan sebesar apapun.

Memang benar, ada amalan tertentu yang perempuan tidak mendapat porsi sebesar laki-laki. Tapi sebenarnya peluang memenangkan perlombaan selalu sama. Ada satu amalan, dimana perempuan tidak bisa maksimal melakukannya. Di sisi amalan lain, justru laki-laki lah yang tidak bisa maksimal bahkan tidak bisa sama sekali melakukannya.

Coba, simaklah riwayat berikut;

Dari Asma’ binti Zaid berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan dari seluruh wanita muslimah yang ada di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana apa yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi laki-laki dan perempuan, kemudian kami beriman kepada Anda dan bersumpah setia kepada Anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum’at, mengantarkan jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut,  Rasulullah menoleh kepada para sahabat dan bersabda,

“pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang Ia tanyakan?”

Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya, Ya Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah bersabda,

“Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang ada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, meminta keridhaan suaminya, dorongan dan persetujuannya, itu dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.”

Mendengar jawaban Rasulullah, maka kembalilah Asma’ sembari bertahlil dan bertakbir. Ia merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah (HR. Al Hakim)

Berdasarkan kisah Asma binti Zaid di atas, ada hikmah yang sangat mulia. Seharusnya ‘persamaan gender’ seperti itulah yang dumunculkan. Yakni semangat untuk menyamai laki-laki dalam hal meraih ridha Allah … bukan persamaan dalam hal materi atau duniawi … persamaan agar perempuan memiliki derajat/kedudukan yang sama dengan laki-laki dalam keluarga, persamaan hak waris, atau justru persamaan memiliki 4 suami sebagaimana laki-laki yang dibolehkan memiliki 4 istri. Persamaan-persamaan seperti inilah, yang sesungguhnya meracuni dan mengacaukan pemikiran para muslimah. Sehingga mereka lebih sibuk mengejar karir di luar daripada mendidik anak-anaknya di rumah … seakan-akan menjadi Ibu rumah tangga adalah sesuatu yang hina.

Padahal tidaklah demikian … Sungguh, menjadi Ibu itu jauh lebih baik daripada posisi setinggi apapun di lingkungan kerja manapun … bahkan menjadi Ibu jauh lebih mulia daripada Presiden sekalipun. Di pundak seorang Ibu lah, tersemat satu harapan untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh, dalam memegang Aqidah dan menjaga Akhlaknya. Melalui Ibulah, akan muncul generasi-generasi seperti Asma’ binti Zaid, Abdullah bin Abbas, Amr bin Ash … generasi-generasi yang telah mengorbankan segalanya, bahkan dirinya, untuk meninggikan Asma Allah … untuk kejayaan dan kemuliaan Islam!!!

Kepada para Muslimah … berbahagialah karena Anda terlahir sebagai Muslimah … Di rahim Anda lah, Allah akan amanahkan satu generasi untuk Anda didik menjadi Generasi yang Islami … Generasi yang akan menegakkan kembali Agama Allah … mengembalikan kejayaannya … dan memenangkannya di atas Agama-agama yang lain … Sekarang, kembalilah ke lintasan … bersiaplah … berlari lah dengan kekuatan terhebat Anda … Karena Jannah-Nya menanti kita … Sekarang !!! Sekarang !!! Sekarang !!!

(19122010 – Kala senja semakin memerah … dan gerimis mulai reda …)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 22, 2011 in ISLAM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: